Tampilkan postingan dengan label Obrolan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obrolan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juli 2013

Permainan Tradisional Yang Terancam Punah

Sobat New Generations….
Era globalisasi ternyata memang berdampak pesat dimuka bumi ini. Semua yang dipakai serba canggih dan modern.Tidak hanya di kota-kota besar, didesa pun hal tersebut sudah sangat terasa. Dimulai dari kalangan tua, dewasa hingga anak-anak.

Dilihat dari kalangan anak-anak sekarang terasa sekali berbeda dengan anak-anak pada masa saya dahulu. Dalam hal bermain, anak zaman sekarang lebih suka bermain Handphone, Playstations, Game Online, dan permainan canggih lainnya. Pada masa saya masih kecil, banyak sekali permainan tradisional yang menurut saya tidak kalah mengasikkan dibandingkan permainan yang dimainka oleh anak-anak zaman sekarang. Tapi sangat disayangkan permainan-permainan itu serasa punah dan hampir tidak pernah dimainkan lagi oleh anak-anak, dan lebih parahnya lagi mereka bahkan ada yang tidak tahu permainan tersebut.

Berikut beberapa permainan tradisional yang terancam kepunahannya didunia anak-anak :

1. Kelereng

Kelereng atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan gundu. Ada juga yang menyebutnya ”neker”. Kelereng berbentuk bulat kecil seperti buah ceri, ia terbuat dari bahan kaca. Dalam memainkanya pun terdiri dari beberapa permainan seperti ‘pot-potan”, “garis”, pala ular” dan “kom-koman”. Saat saya masih kecil, jumlah kelereng yang saya punyai hampir seratusan karena saya termasuk pintar dan titis (istilah yang digunakan bila mengenai musuh) dalam bermain.

2. Karet Gelang

Sebenarnya karet gelang disini difungsikan untuk mengikat bungkus sayuran ketika orang berbelanja dipasar. Tapi selain digunakan untuk hal tersebut, karet gelang juga dapat dimanfaatkan oleh anak-anak dulu sebagai alat bermain. Anak wanita menggunakan karet gelang ini untuk bermain “lompatan” dan “semprong”. Karet gelang ini dirajut hingga mencapai panjang 2 atau 3 meter bahkan lebih terlebih dahulu agar bisa digunakan untuk bermain. Untuk mendapatkan karet gelang ini dulu ada sebagian anak didesa saya yang rela seperti pemulung dipasar untuk mencari karet gelang ditengah-tengah pasar. Karena memang terkadang banyak sekali karet gelang yang dibuang setelah digunakan dipasar. Maklum untuk beli karet gelang yang baru tidak punya uang sobat..he..he..he…

3. Bentengan

Seperti halnya kerajaan-kerajaan zaman dahulu yang selalu mempunyai benteng untuk pertahanan kerajaan mereka, permainan bentengan ini layaknya hal tersebut. Hanya benteng yang digunakan ini biasanya berupa dua buah pohon. Cara bermainnya anak-anak dibagi menjadi 2 buah kelompok yang terdiri dari 3 – 5 anak. Pertama salah satu anak dalam kelompok berlari terlebih dahulu, kemudian kelompok lainnya mengejar dan seterusnya. Apabila ada anak yang terpegang maka dianggap kena atau menjadi tahanan. Untuk menentukan kelompok mana yang menjadi pemenang adalah kelompok mana yang bisa memegang benteng musuh tetapi tidak boleh tertangkap oleh penjaga benteng musuh. Dan hukuman bagi musuh yang kalah adalah menggendong pemenang bolak-balik dari benteng satu kebenteng yang lain. Bayangkan bagaimana serunya kan sobat…

4. Petak Umpet

Petak umpet atau disebut “jumpritan” dalam bahasa jawa. Petak umpet biasanya dimainkan oleh 2 orang atau lebih. Untuk menentukan siapa yang harus jaga, biasaya dilakukan dengan cara “hompimpah” atau dengan “kacang-kacang panjang”. Apabila ada yang kalah, maka harus jaga dan teman-teman yang lain bersembunyi. Tugas penjaga adalah mencari teman-teman yang bersembunyi hingga ketemu dan berhati-hati agar teman yang bersembunyi tidak sampai melakukan “jumprit”. Apabila hal tersebut terjadi maka ia harus kembali berjaga lagi.

5. Wayang dan Kuartet

Bagi anak yang tidak paham yang dimaksud dengan wayang adalah seni tradisional jawa yang dimainkan oleh dalang. Saya juga tidak paham asal usul kenapa permainan ini disebut dengan wayang. Mungkin karena wayang ini berupa gambar yang diberi nomor 1 – 36 dan biasanya memiliki suatu alur cerita. Wayang yang saya punyai dulu berupa wayang yang bercerita tentang wiro sableng, arya kamandanu, he man, power ranger, dll.
Dalam memainkannya pun masih ada macamnya, seperti “apitan”, “tekpo”, kiukiu”, “sebaran” dan “plek”.

6. Congklak

Istilah lainnya adalah “Dakon”. Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak wanita. Tetapi terkadang anak laki-laki pun memainkannya. Dalam bermain bisanya menggunakan papan congklak dan 98 (14x7) buah biji. Bagi anak yang tidak mempunyai papan congklak dan biji, biasanya mereka menggali lubang ditanah dan menggunakan batu kerikil sebagai bijinya.

7. Sepak Tekung

Permainan sepak tekung sebenarnya hampir sama dengan permainan petak umpet. Yang membedakannya dalam sepak tekung anak-anak harus mempunyai bola atau pecahan genting sebagai medianya. Jadi si penjaga bertugas mencari teman yang bersembunyi sambil tetap menjaga bola agar tidak ditendang atau pecahan genting yang disusun tidak dijatuhkan oleh teman. Bila hal tersebut terjadi maka ia harus berjaga kembali.

8. Gobak Sodor

Permainan ini bisa dilakukan oleh anak laki-laki bersama dengan perempuan. Gobak sodor inilah sobat yang menjadi permainan favorit saya dulu ketika kecil. Dalam bermain biasanya dilakukan pada malam hari selepas saya dan teman-teman saya pulang mengaji dari mushola. Dengan dibantu dengan penerangan sinar bulan permainan ini sangat mengasikkan. Untuk cara bermainnya sulit untuk saya jelaskan sobat, jadi bagi sobat yang penasaran silahkan bertanya kepada orang tua atau kakek nenek sobat saya yakin mereka pasti bisa menjelaskannya…he..he…he…

Sebenarnya masih banyak lagi permainan anak-anak dulu yang mengasikkan tetapi sekarang sudah ditinggalkan. Seperti Bentek, Gedrik, Egrang, Layangan, Tamtam Buku, Paton dan lain-lain.



Bila saya mengingat masa-masa itu ingin sekali kembali kemasa tersebut dimana kita bisa tertawa lepas bersama teman-teman yang lain. Apakah mungkin permainan tersebut dapat terulang lagi dimasa modern sekarang ini? Bagi sobat yang telah memiliki putra dan putri tolong perkenalkan permainan ini agar mereka benar-benar tidak akan punah,

Salam,

Yang Muda Yang Terdepan....

Senin, 01 Juli 2013

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1434 H / 2013 M

Sobat New Generations...
Tidak terasa tinggal menghitung hari saja kita akan dipertemukan lagi dengan bulan yang maha agung, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan yaitu bula Ramadhan. Semoga saja kita bisa menjalani tanpa ada halangan nantinya sobat.

Nah, sambil diingat-ingat lagi bagi sobat yang masih mempunyai hutang ditahun kemarin terutama sobit-sobitnya masih ada waktu kurang lebih 9 hari untuk membayar atau mengganti atas hutang puasa kita tahun lalu.

Menjelang menyambut bulan ramadhan tentu saja selain niat dan kekhusukan kita dalam menjalani puasa ramadhan nantinya pasti kita membutuhkan Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1434 H / 2013 agar kita tahu pada pukul berapa waktu imsak dan berbuka sobat. Bagi sobat-sobit yang bertempat tinggal di kota Metro, Lampung dapat mendownload atau mengkopi lalu dicetak sebagai panduan untuk keluarga sobat dan sobit  Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1434 H / 2013 dengan cara mengklik pilihan kota yang ada dibawah Jadwal, demikian pula sobat-sobat yang ada dikota-kota lainnya.

Silahkan Klik dibawah ini :








Marhaban Ya Ramadhan.....

Salam,
Yang Muda Yang Terdepan

Senin, 24 Juni 2013

Sejarah Sunan Gunung Jati / Syarif Hidayatullah

1. Asal - Usul
Sebelum era Sunan Gunung Jati berdakwah di Jawa Barat. Ada seorang ulama besar dari Baghdad telah datang di daerah Cirebon bersama dua puluh dua orang muridnya. Ulama besar itu bernama Syekh Kahfi. Ulama inilah yang lebih dahulu menyiarkan agama Islam di sekitar daerah Cirebon.

Al-Kisah, putra Prabu Siliwangi dari Pajajaran bernama Pangeran Walangsungsang dan adiknya Rara Santang pada suatu malam mendapat mimpi yang sama. Mimpi itu berulang hingga tiga kali iaitu bertemu dengan Nabi Muhammad yang mengajar agama Islam.

Wajah Nabi Muhammad yang agung dan caranya menerangkan Islam demikian mempersona membuat kedua-dua anak muda itu merasa rindu. Tapi mimpi itu hanya terjadi tiga kali.

Seperti orang kehausan, kedua-dua anak muda itu meneguk air lebih banyak lagi, air yang akan menyejukkan jiwanya itu agama Islam. Kebetulan mereka telah mendengar adanya Syekh Dzatul Kahfi atau lebih muda disebut Syekh Datuk Kahfi yang membuka perguruan Islam di Cirebon. Mereka mengutarakan maksudnya kepada Prabu Siliwangi untuk berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, mereka ingin mendalami agama Islam seperti ajaran Nabi Muhammad SAW. Tapi keinginan mereka ditolak oleh Prabu Siliwangi.

Pangeran Walangsungsang dan adiknya nekad, kedua-duanya melarikan diri dari istana dan pergi berguru kepada Syekh Datuk Kahfi di Gunung Jati. Setelah berguru beberapa lama di Gunung Jati, Pangeran Walangsungsang diperintahkan oleh Syekh Datuk Kahfi untuk membuka hutan di bahagian selatan Gunung Jati. Pangeran Walangsungsang adalah seorang pemuda sakti,

tugas itu diselesaikan hanya dalam beberapa hari. Daerah itu dijadikan pendukuhan yang makin hari banyak orang berdatangan menetap dan menjadi pengikut Pangeran Walangsungsang. Setelah kawasan itu ramai Pangeran Walangsungsang diangkat sebagai kepala Dukuh dengan gelaran Cakrabuana. Daerahnya dinamakan Tegal Alang-alang.

Orang yang menetap di Tegal Alang-alang terdiri dari pelbagai rasa atau keturunan, banyak pula pedagang asing yang menjadi penduduk tersebut, sehingga terjadilah pembauran dari pelbagai bangsa dan pencampuran itu dalam bahasa Sunda disebut Caruban. Maka Legal Alang-alang disebut Caruban.

Sebahagian besar rakyat Caruban mata pencariannya adalah mencari udang kemudian dibuatnya menjadi petis yang terkenal.

Dalam bahasa Sunda Petis dari air udang itu, Cai Rebon. Daerah Carubanpun kemudian lebih dikenali sebagai Cirebon hingga sekarang ini. Setelah dianggap memenuhi syarat, Pangeran Cakrabuana dan Rarasantang di perintah Datuk Kahfi untuk melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci. Di Kota Suci Mekah, kedua-dua adik-beradik itu tinggal di rumah seorang ulama besar bernama Syeikh Bayanillah sambil menambah pengetahuan agama.

Sewaktu mengerjakan tawaf mengelilingi Kaabah kedua kakak beradik itu bertemu dengan seorang Raja Mesir bernama Sultan Syarif Abdullah yang sama-sama menjalani Ibadah haji. Raja Mesir itu tertarik pada wajah Rarasantang yang mirip mendiang isterinya.

Sesudah ibadah haji diselesaikan Raja Mesir itu melamar Rarasantang pada Syekh Bayanillah. Rarasantang dan Pangeran Cakrabuana tidak keberatan. Maka dilangsungkanlah perkahwinan dengan cara Mazhab Syafie. Nama Rarasantang kemudian diganti dengan Syarifah Mudaim. Dari perkahwinan itu lahirlah Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah.

Pangeran Cakrabuana sempat tinggal di Mesir selama tiga tahun. Kemudian pulang ke Jawa dan mendirikan Negeri Caruban Larang. Negeri Caruban Larang adalah perluasan dari daerah Caruban atau Cirebon, pola pemerintahannya menggunakan asas Islami. Istana negeri itu dinamakan sesuai dengan putri Pangeran Cakrabuana iaitu Pakungwati.

Dalam waktu yang singkat Negeri Caruban Larang telah terkenal ke seluruh Tanah Jawa, terdengar pula oleh Prabu Siliwangi selaku penguasa daerah Jawa Barat. Setelah mengetahui negeri baru tersebut dipimpin anaknya sendiri, maka sang Raja tidak keberatan walau hatinya kurang berkenan. Sang Prabu akhirnya juga merestui tampuk pemerintahan puteranya, bahkan sang Prabu memberinya gelar Sri Manggana.

Sementara itu dalam usia muda Syarif Hidayatullah ditinggal mati oleh ayahnya. Ia dilantik untuk menggantikan kedudukannya sebagai Raja Mesir, tapi anak muda yang masih berusia dua puluh tahun itu tidak mahu. Dia dan ibunya bermaksud pulang ke tanah Jawa berdakwah di Jawa Barat. Kedudukan ayahnya itu kemudian diberikan kepada adiknya iaitu Syarif Nurullah.

Sewaktu berada di negeri Mesir, Syarif Hidayatullah berguru kepada beberapa ulama besar didaratan Timur Tengah. Dalam usia muda itu ilmunya sudah sangat banyak, maka ketika pulang ke tanah leluhurnya iaitu Jawa, ia tidak merasa kesulitan melakukan dakwah.

2. Perjuangan Sunan Gunung Jati

Sering kali berlaku sebarang kekeliruan antara nama Fatahillah dengan Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati. Orang menganggap Fatahillah dan Syarif Hidayatullah adalah satu, tetapi yang benar adalah dua orang. Syarif Hidayatullah cucu Raja Pajajaran adalah seorang penyebar agama Islam di Jawa Barat yang kemudian disebut Sunan Gunungjati.

Sedang Fatahillah adalah seorang pemuda Pasai yang dihantar Sultan Trenggana membantu Sunan Gunungjati berperang melawan penjajah Portugis.

Bukti bahawa Fatahillah bukan Sunan Gunungjati adalah makam dekat Sultan Gunungjati yang ada tulisan Tubagus Pasai Fathullah atau Fatahillah atau Faletehan menurut lidah orang Portugis. Syarif Hidayatullah dan ibunya Syarifah Muda'im datang di negeri Caruban Larang Jawa Barat pada tahun 1475 sesudah mampir dahulu di Gujarat dan Pasai untuk menambah pengalaman. Kedua-dua orang itu disambut gembira oleh Pangeran Cakrabuana dan keluarganya. Syekh Datuk Kahfi sudah meninggal, guru Pangeran Cakrabuana dan Syarifah Muda'im itu dikebumikan di Pasambangan. Dengan alasan agar selalu dekat dengan makam gurunya, Syarifah Muda'im minta agar dibenarkan tinggal di Pasambangan atau Gunungjati.

Syarifah Muda'im dan putranya iaitu Syarif Hidayatullah meneruskan usaha Syekh Datuk Kahfi membuka Pesantren Gunungjati. Sehingga kemudian dari Syarif Hidayatullah lebih dikenali dengan sebutan Sunan Gunungjati.

Tibalah saat yang ditentukan, Pangeran Cakrabuana menikahkan anaknya iaitu Nyi Pakungwati dengan Syarif Hidayatullah. Selanjutnya iaitu pada tahun 1479, kerana usianya sudah lanjut Pangeran Cakrabuana menyerahkan kuasa Negeri Caruban kepada Syarif Hidayatullah dengan gelaran Susuhunan ertinya orang yang dijunjung tinggi.

Disebutkan, pada tahun pertama pemerintahannya Syarif Hidayatullah berkunjung ke Pajajaran untuk melawat datuknya iaitu Prabu Siliwangi. Sang Prabu diajak masuk Islam kembali tapi tidak mahu. Mesti Prabu Siliwangi tidak mahu masuk Islam, dia tidak menghalang cucunya menyiarkan agama Islam di wilayah Pajajaran. Syarif Hidayatullah kemudian melanjutkan perjalanan ke Serang. Penduduk Serang sudah ada yang masuk Islam kerana banyak saudagar dari Arab dan Gujarat yang sering singgah ke tempat itu.

Kedatangan Syarif Hidayatullah disambut baik oleh adipati Selangor. Bahkan Syarif Hidayatullah dijodohkan dengan putri Adipati Selangor yang bernama Nyi Kawungten. Dari perkahwinan inilah kemudian Syarif Hidayatullah dikurniakan orang putra
iaitu Nyi Ratu Winaon dan Pangeran Sebakingking. Dalam menyebarkan agama islam di Tanah Jawa, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunungjati tidak bekerja sendirian, beliau sering ikut berbincang dengan ahli wali lain di Masjid Demak.

Bahkan disebutkan beliau juga membantu berdrinya Masjid Demak. Dari pergaulannya dengan Sultan Demak dan para Wali lain ini akhirnya Syarif Hidayatullah mendirikan Kesultanan Pakungwati dan ia mengisytiharkan diri sebagai Raja yang pertama dengan gelaran Sultan.

Dengan penubuhan Kesultanan tersebut Cirebon tidak lagi menghantar ufti kepada Pajajaran yang biasanya disalurkan melalui Kadipaten Galuh. Tindakan ini dianggap sebagai pembangkangan oleh Raja Pajajaran. Raja Pajajaran tak peduli siapa yang berdiri di balik Kesultanan Cirebon itu maka dikirimkannya pasukan tentera pilihan yang dipimpin oleh Ki Jagabaya.

Tugas mereka adalah menangkap Syarif Hidayatullah yang dianggap lancang mengangkat diri sebagai raja tandingan Pajajaran. Tapi usaha ini tidak berhasil, Ki Jagabaya dan anak buahnya malah tidak kembali ke Pajajaran, mereka masuk Islam dan menjadi pengikut Syarif Hidayayullah.

Dengan bergabungnya tentera dan pegawai pilihan ke Cirebon maka makin bertambah besar, pengaruh Kesultanan Pakungwati. Daerah-daerah lain seperti: Surantaka, Japura, Wana Giri, Telaga dan lain-lain menyatakan diri menjadi wilayah Kasultanan Cirebon.

Lebih-lebih dengan diperluas Pelabuhan Muara Jati, makin bertambah besar, pengaruh Kasultanan Cirebon. Banyak peniaga besar dari negeri asing datang menjalin persahabatan. Diantaranya dari negeri China. Salah seorang keluarga istana Cirebon kawin dengan Pembesar dari negeri China yang berkunjung ke Cirebon iaitu Ma Huan. Maka jalinan antara Cirebon dan negeri Cina makin erat.

Bahkan Sunan Gunungjati pernah diundang ke negeri China dan kawin dengan puteri Maharaja China yang bernama Puteri Ong Tien. Maharaja China yang pada saat itu daripada dinasti Ming juga beragama Islam. Dengan perkahwinan itu sang Maharaja ingin menjalin erat hubungan baik antara Cirebon dan negeri China, hal ini ternyata menguntungkan bangsa Cina untuk dimanfaatkan dalam dunia perdagangan.

Sesudah kawin dengan Sunan Gunungjati, Putri Ong Tien di ganti namanya menjadi Nyi Ratu Rara Semanding. Maharaja ayah Puteri Ong Tien ini membekali anaknya dengan harta benda yang tidak sedikit, sebahagian besar barang-barang peninggalan putri Ong Tien yang dibawa dari negeri China itu sampai sekarang masih ada dan disimpan di tempat yang aman.

Istana dan Masjid Cirebon kemudian dihiasi dan diperluaskan lagi dengan motif-motif hiasan dinding dari negeri China. Masjid Agung Sang Ciptarasa dibina pada tahun 1480 atas inisiatif Nyi Ratu Pakungwati atau isteri Sunan Gunungjati. Dari pembangunan masjid itu melibatkan banyak pihak, antaranya Wali Songo dan sejumlah tenaga ahli yang dihantar oleh Raden Patah. Dalam pembangunan itu Sunan Kalijaga mendapat penghormatan untuk mendirikan Soko Tatal sebagai lambang persatuan ummat.

Selesai membina masjid, diserukan dengan membina jalan-jalan raya yang menghubungkan Cirebon dengan daerah-daerah Kadipaten lain untuk memperluaskan pembangunan Islam di seluruh Tanah Pasundan. Prabu Siliwangi hanya boleh menahan diri atas perkembangan wilayah Cirebon yang semakin luas itu. Bahkan wilayah Pajajaran sendiri sudah semakin terhimpit.

Pada tahun 1511 Melaka diduduki oleh bangsa Portugis. Selanjutnya mereka ingin meluaskan kuasa ke Pulau Jawa. Pelabuhan Sunda Kelapa yang jadi incaran mereka untuk menanam kuku penjajahan. Demak Bintoro tahu bahaya besar yang mengancam kepulauan Nusantara.

Oleh kerana itu Raden Patah menghantar Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor untuk menyerang Portugis di Melaka. Tapi usaha itu tidak membuahkan hasil, persenjataan Portugis terlalu lengkap, dan mereka terlanjur mendirikan benteng yang kuat di Melaka.

Ketika Adipati Unus kembali ke Jawa, seorang pejuang dari Pasai (Melaka) bernama Fatahillah ikut belayar ke Pulau Jawa. Pasai sudah tidak selamat lagi bagi mubaligh seperti Fatahillah kerana itu beliau ingin menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa.

Raden Patah meninggal pada tahun 1518, berkedudukannya digantikan oleh Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor, baru saja beliau dinobatkan muncullah pemberontakanpemberontakan dari kawasan pedalaman, dalam usaha memadamkan pemberontakan itu Pangeran Sabrang Lor meninggal dunia, gugur sebagai pejuang sahid.

Pada tahun 1521 Sultan Demak di pegang oleh Raden Trenggana putra Raden Patah yang ketiga. Di dalam pemerintahan Sultan Trenggana inilah Fatahillah dilantik sebagai Panglima Perang yang akan ditugaskan mengusir Portugis di Sunda Kelapa.

Fatahillah yang pernah berpengalaman melawan Portugis di Melaka sekarang harus mengangkat senjata lagi. Dari Demak mula-mula pasukan yang dipimpinnya menuju Cirebon. Pasukan gabungan Demak Cirebon itu kemudian menuju Sunda Kelapa yang sudah dijarah Portugis atas bantuan Pajajaran.

Mengapa Pajajaran membantu Portugis? Kerana Pajajaran merasa iri dan dendam pada perkembangan wilayah Cirebon yang semakin luas, ketika Portugis menjanjikan bersedia membantu merebut wilayah Pajajaran yang dikuasai Cirebon maka Raja Pajajaran menyetujuinya.

Mengapa Pasukan gabungan Demak-Cirebon itu tidak dipimpin oleh Sunan Gunungjati? Kerana Sunan Gunungjati tahu dia harus berperang melawan datuknya sendiri, maka diperintahkannya Fatahillah memimpin serbuan itu.

Pengalaman adalah guru yang terbaik, dari pengalamannya bertempur di Melaka, tahulah Fatahillah titik-titik lemah tentera dan siasat Portugis. Itu sebabnya dia dapat memberi arahan dengan tepat dan setiap serangan Demak-Cirebon selalu membawa hasil gemilang.

Akhirnya Portugis dan Pajajaran kalah, Portugis kembali ke Melaka, sedangkan Pajajaran cerai berai tak menentu arahnya. Selanjutnya Fatahillah ditugaskan mengamankan Selangor dari gangguan para pemberontak iaitu sisa-sisa pasukan Pajajaran. Usaha ini tidak menemui kesulitan kerana Fatahillah dibantu putra Sunan Gunungjati yang bernama Pangeran Sebakingking. Di kemudian hari Pangeran Sebakingking ini menjadi penguasa Selangor dengan gelar Pangeran Hasanuddin.

Fatahillah kemudian diangkat segenap Adipati di Sunda Kelapa. Dan merubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, kerana Sunan Gunungjati selaku Sultan Cirebon telah memanggilnya untuk meluaskan daerah Cirebon agar Islam lebih merata di Jawa Barat. Berturut-turut Fatahillah dapat menakluk daerah TALAGA sebuah negara kecil yang dikuasai raja Buddha bernama Prabu Pacukuman. Kemudian kerajaan Galuh yang hendak meneruskan kebesaran Pajajaran lama. Raja Galuh ini bernama Prabu Cakraningrat dengan senopatinya yang terkenal iaitu Aria Kiban. Tapi Galuh tak dapat membendung kekuatan Cirebon, akhirnya raja dan senopatinya tewas dalam peperangan itu.

Kemenangan demi kemenangan berjaya diraih Fatahillah. Akhirnya Sunan Gunungjati memanggil ulama dari Pasai itu ke Cirebon. Sunan Gunungjati menjodohkan Fatahillah dengan Ratu Wulung Ayu. Sementara kedudukan Fatahillah selaku Adipati Jayakarta kemudian diserahkan kepada Ki Bagus Angke. Ketika usia Sunan Gunungjati sudah semakin tua, beliau mengangkat anaknya iaitu Pangeran Muhammad Arifin sebagai Sultan Cirebon ke dua dengan gelaran Pangeran Pasara Pasarean. Fatahillah yang di Cirebon sering disebut Tubagus atau Kiai Bagus Pasai diangkat menjadi penasihat sang Sultan.

Sunan Gunungjati lebih memusatkan diri pada penyiaran dakwah Islam di Gunungjati atau Pesantren Pasambangan. Namun lima tahun sejak pelantikannya mendadak Pangeran Muhammad Arifin meninggal dunia mendahului ayahandanya. Kedudukan Sultan kemudian diberikan kepada Pangeran Sebakingking yang bergelar sultan Maulana Hasanuddin, dengan kedudukannya di Selangor.

Sedang Cirebon walaupun masih tetap digunakan sebagai kesultanan tapi Sultannya hanya bergelar Adipati. Iaitu Adipati Carbon I. Adpati Carbon I ini adalah menantu Fatahillah yang diangkat sebagai Sultan Cirebon oleh Sunan Gunungjati.

Adapun nama asalnya Adipati Carbon adalah Aria Kamuning.
Sunan Gunungjati meninggal pada tahun 1568, dalam usia 120 tahun. Bersama ibunya, dan pangeran Carkrabuasa beliau dimakamkan di gunung Sembung. Dua tahun kemudian wafat pula Kiai Bagus Pasai, Fatahillah dimakamkan di tempat yang sama, makam kedua-dua tokoh itu berdampingan, tanpa diperantarai apapun juga





Sumber : http://hudagames.blogspot.com/2012/11/riwayat-sunan-gunung-jati.html

Sejarah Sunan Muria / Raden Umar Said

Sobat New Generations....
Sunan Muria
Asal Usul Sunan Muria
Sunan Muria yang memiliki nama asli Raden Umar Said adalah putra Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama Muria diambil dari nama tempat tinggal terakhir beliau di lereng Gunung Muria, kira-kira delapan belas kilometer ke utara Kota Kudus. Seperti ayahnya, dalam berdakwah beliau menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai mengeruhkan airnya.  Itulah cara yang ditempuh untuk menyiarkan agama Islam di sekitar Gunung Muria.

Berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah yang sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Tempat tinggal beliau terletak di salah satu puncak Gunung Muria yang bernama Colo. Di sana Sunan Muria banyak bergaul dengan rakyat jelata sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut. Beliaulah satu-satunya wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan ajaran Islam.  Salah satu hasil dakwah beliau melalui media seni adalah tembang Sinom dan Kinanti.

Sunan Muria sering berperan sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530). Beliau dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juwana hingga sekitar Kudus dan Pati. Peranan serta jasa Sunan Muria semasa hidupnya membuat makam beliau yang terletak di Gunung Muria sampai hari ini tidak pernah sepi peziarah.

Colo dan Bukit Muria

Di sebelah Utara kota Kudus dengan jarak 18 km. terdapat desa bernama Colo. Desa Colo ini terletak di lereng bukit Muria, yakni salah sebuah bukit dari beberapa puncak di Gunung Muria yang tingginya 1600 meter lebih. Di atas bukit Muria itulah letaknya makam Sunan Muria, di belakang Masjid yang konon dibuat sendiri oleh beliau. (Masjid itu sekarang telah dipugar sehingga hilang keasliannya kecuali hanya beberapa bagian saja yang masih asli, namun itupun adalah bekas pugaran juga).

Gerbang Masuk Ke Bukit Muria
Mengapa bukit atau gunung itu dinamakan Muria?

Menurut hypotesa Solihin Salam dalam bukunya "Kudus Purbakala Dalam Perjoangan Islam" terbitan Menara Kudus halaman 47 — 50, yang mana setelah Solihin Salam mengutip dari buku "A Short Cultural History of Indonesia" karya Soetjipto Wirjosoeparto, berpendapat bahwa nama Muria itu diidentifikasikan dengan nama sebuah bukit di dekat Yerussalam Palestina. Di dekat Yerussalam atau Darussalam sana yang terdapat juga disebut Baitul Maqdis, ada sebuah bukit yang bernama Gunung Moriah, di mana Nabi Daud dan Nabi Sulaiman dahulu membangun sebuah kanisah.

Bukit Muria
Perlu diketahui bahwa nama kota Kudus mungkin diambil dari sebuah inskripsi tentang berdirinya Masjid Menara Kudus, yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun  956 H.   (1549 M) yang mengatakan bahwa kota ini bernama Al Quds.

Maka nama Muria mengingatkan kita pada nama sebuah bukit di dekat kota Baitul Maqdis atau Yerussalam atau Darussalam itu.

Desa Colo dijadikan obyek pariwisata oleh Pemerintah Daerah Kudus. Di sana telah berdiri banyak villa, dengan hawanya yang sejuk, terdapat sebuah grojogan atau air terjun (curug) bernama MONTHEL. Bila hari Minggu banyak orang berekreasi, terutama pada hari-hari ramainya ziarah ke makam Sunan Muria, yakni pada hari-hari Kaniis Legi dan Jum 'at Paing.

Makam Sunan Muria dan Masjidnya.

Sunan Muria dimakamkan di atas puncak bukit bernama bukit Muria. Dari pintu gerbang masih naik lewat beratus tangga (undhagan) menuju ke komplek makamnya, yang terletak persis di belakang Masjid Sunan Muria. Mulai naik dari pintu gerbang pertama paling bawah hingga sampai pelataran Masjid jaraknya kurang lebih 750 meter jauhnya.

Makam Sunan Muria
Setelah kita memasuki pintu gerbang makam, tampak di hadapan kita pelataran makam yang dipenuhi oleh 17 batu nisan. Menurut Juru Kunci makam, itu adalah makamnya para prajurit dan pada punggawa (orang-orang terdekat, ajudan dan semacam Patih dalam Keraton).

Di batas utara pelataran ini berdiri bangunan cungkup makam beratapkan sirap dua tingkat. Di dalamnya terdapat makamnya Sunan Muria. Di sampingnya sebelah timur, ada nisan yang konon makamnya puterinya perempuan bernama Raden Ayu Nasiki.

Dan tepat di sebelah barat dinding belakang masjid Muria, sebelah selatan mihrab terdapat makamnya Panembahan Pengulu Jogodipo, yang menurut keterangannya Juru Kunci adalah putera sulungnya Sunan Muria.

Minggu, 23 Juni 2013

Sejarah Sunan Kalijaga / Raden Said

Sobat New Generations....
Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain LokajayaSyekh MalayaPangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.

Menurut cerita, Sebelum menjadi Walisongo, Raden Said adalah seorang perampok yang selalu mengambil hasil bumi di gudang penyimpanan Hasil Bumi. Dan hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang-orang yang miskin. Suatu hari, Saat Raden Said berada di hutan, ia melihat seseorang kakek tua yang bertongkat. Orang itu adalah Sunan Bonang. Karena tongkat itu dilihat seperti tongkat emas, ia merampas tongkat itu. Katanya, hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang yang miskin. Tetapi, Sang Sunan Bonang tidak membenarkan cara itu. Ia menasihati Raden Said bahwa Allah tidak akan menerima amal yang buruk. Lalu, Sunan Bonang menunjukan pohon aren emas dan mengatakan bila Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha, maka ambillah buah aren emas yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang. Karena itu, Raden Said ingin menjadi murid Sunan Bonang. Raden Said lalu menyusul Sunan Bonang ke Sungai. Raden Said berkata bahwa ingin menjadi muridnya. Sunan Bonang lalu menyuruh Raden Said untuk bersemedi sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke tepi sungai. Raden Said tidak boleh beranjak dari tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang. Raden Said lalu melaksanakan perintah tersebut. Karena itu,ia menjadi tertidur dalam waktu lama. Karena lamanya ia tertidur, tanpa disadari akar dan rerumputan telah menutupi dirinya. Tiga tahun kemudian, Sunan Bonang datang dan membangunkan Raden Said. Karena ia telah menjaga tongkatnya yang ditanjapkan ke sungai, maka Raden Said diganti namanya menjadi Kalijaga. Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran agama oleh Sunan Bonang. Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf" bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil memengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilirdan Gundul-gundul Pacul. Dialah menggagas baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu ("Petruk Jadi Raja"). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga

Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang.

Tiang Masjid Demak yang dibuat oleh Sunan Kalijaga

WASIAT KANJENG SUNAN KALIJAGA

Wasiat sunan kalijaga dalam kitabnya :

“Yen wis tibo titiwancine kali-kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange, wong wadon ilang wirange mangka enggal – enggala tapa lelana njlajah desa milang kori patang sasi aja ngasik balik yen during olih pituduh (hidayah) saka gisti Allah”

Artinya kurang lebih :

“jika sudah tiba zamannya dimana sungai-sungai hilang kedalamannya (banyak orang yang berilmu yang tidak amalkan ilmunya), pasar hilang gaungnya, jika masjid-masjid tak ada adzan, wanita-wanita hilang malunya (tidak tutup aurat) maka cepat-cepatlah kalian keluar 4 bulan dari desa ke desa (dari kampung ke kampung) dari pintu ke pintu (dari rumah ke rumah untuk dakwah) janganlah pulang sebelum mendapat hidayah dari Allah SWT.”

Ketika wafat, beliau dimakamkan di Desa Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara). Makam ini hingga sekarang masih ramai diziarahi orang.
Makam Sunan Kalijaga
Salam,
Yang Muda Yang Terdepan

Sejarah Sunan Giri / Raden Paku

Sobat New Generations....
Sunan Giri
Sunan Giri memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya--seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja.

Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.

Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah tiga tahun berguru kepada ayahnya, Raden Paku atau lebih dikenal dengan Raden 'Ainul Yaqin kembali ke Jawa. Ia kemudian mendirikan sebuah pesantren giri di sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas. Dalam bahasa Jawa, giri berarti gunung. Sejak itulah, ia dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Giri.

Pesantren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai keMadura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yang disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung.

Terdapat beberapa karya seni tradisional Jawa yang sering dianggap berhubungkan dengan Sunan Giri, diantaranya adalah permainan-permainan anak seperti Jelungan, Lir-ilir dan Cublak Suweng; serta beberapa gending (lagu instrumental Jawa) seperti Asmaradana danPucung.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.

Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.

Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.
Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.

Makam Sunan Giri
Kendaraan menuju makam Sunan Giri
Seperti makam walisongo lainnya, disini telah tersedia tempat parkir khusus bus peziarah dan wisatawan. Makam Sunan Giri berada di atas bukit, maka dari itu dari tempat parkir kita harus berjalan mendaki keatas. Jangan khawatir capek, karena disini banyak tersedia dokar atau ojek yang siap mengantar wisatawan ke makam. Tarif ojek Rp 5.000,- sekali jalan dan dokar ± Rp 10.000,- untuk perjalanan turunnya, tergantung juga berapa kita menawar dan seberapa banyak penumpangnya (jika perjalanan naik, maka harganya lebih mahal).

Tangga Naik ke Makam
Sehabis naik ojek atau dokar, kita harus naik anak tangga lagi untuk menuju makam. Di sepanjang anak tangga banyak terdapat pedagang makanan dan cinderamata serta yang tak ketinggalan adalah para pengemis yang menyemut.

Diantara anak tangga ini terdapat gapura bentar daribatu bata dengan hiasan gunungan di kaki gapura serta terdapat patung singa dalam keadaan aus (rusak). Di anak tangga ini terdapat banyak pohon, diantaranya pohon asam yang dari penuturan penduduk setempat merupakan pohon asam yang ditanam Sunan Giri kala masih hidup. Bahkan, masyarakat sekitar berujar bahwa mereka tidak berhak atas tanah di sekitar Makam Sunan Giri dan tanah tersebut masih milik Sunan Giri. Sekarang,
Gapura Bentar Tahun 1920
daerah di sekitar makam Sunan Giri dikelola oleh Yayasan Sunan Giri, tapi apakah pemilik yayasan merupakan penerus dari Giri Kedaton setelah serangan VOC tahun 1680 yang membuat Kerajaan Giri Kedaton berakhir.

Makam Sunan Giri sendiri berada di dalam cungkup yang dihiasi banyak ornamen dengan motif sulur tanaman. Pintu masuk makam dibuat rendah sehingga pengunjung harus merunduk agar tidak terbentur. Hal ini disengaja sebagai penghormatan kepada Sunan Giri.
Makam Sunan Giri
Komplek Makam Sunan Giri berada pada teras paling tinggi dan dikelilingi banyak makam lainnya. Sebagai pembatas antar teras digunakan batu bata dan rongganya diisi batu koral. Hal ini mengingatkan saya akan Candi Gembirowati di Yogyakarta dan Makam Sunan Drajat.

Salam,
Yang Muda Yang Terdepan

Label